Marah ......!! Kenapa Tidak....?

Kemarahan termasuk dalam manajemen Qalbu, dalam agama islam ada dua kategori yakni marah yang terpuji dan marah yang tercela, Ketika ada yang bertanya, apakah anda pernah marah, pastilah semua akan menjawab pernah. Tapi jika pertanyaannya diubah menjadi apakah anda akan marah bila melihat anak kita tidak mau belajar? Mungkin sebagian dari kita akan menjawab "jelas marah lah !!", dan sebagian yang lain akan menjawab "namanya juga, anak kecil?", dan sebagian yang lain akan menanggapi dengan keragu-raguan antara, marah dan tidak.

Marah, menurut Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulumuddin, pada hakikatnya merupakan gejolak hati yang mendorong agresifitas. Energi marah ini meledak untuk mencegah timbulnya hal-hal negatif juga untuk melegakan jiwa dan sebagai pembalasan akibat hal-hal negatif yang telah menimpa seseorang.

Kemarahan yang ditujukan untuk mempertahankan diri, agama, hukum atau untuk menolong orang yang dizalimi adalah terpuji. Terlebih lagi marah jika hukum Allah dilanggar atau ayat - ayat Allah dipermainkan.

Aisyah Radhiyallahu ‘‘Anha berkata,

مَا نِيلَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا فَانْتَقَمَهُ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ مَحَارِمُ اللهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ .

“Rasulullah Shallallahu ‘‘Alaihi wa Sallam tidak pernah marah jika disakiti. Tetapi jika hukum Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah,  HR. Muslim (6195), Ahmad (25200), Ath-Thabarani dalam Al-Awsath (7866), Al-Baihaqi dalam Ad-Dala`il (248). 

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam misinya mengemban risalah dan menyebarkan dakwah Allah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering sekali disakiti oleh musuh-musuhnya, terutama ketika masih berada di Makkah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Beliau pernah dilempar batu hingga berdarah, pernah diludahi, pernah dilempar kotoran, dikatakan gila, pendusta, tukang sihir, dan sebagainya. Bahkan beliau juga pernah hampir dibunuh. Namun semua itu beliau hadapi dengan sabar dan ikhlas.

tetapi, tidak demikian halnya apabila yang disakiti adalah Allah. Dalam arti, apabila hukum Allah yang dilanggar, maka beliau akan sangat marah.

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim disebutkan, ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia berkata, “Sesungguhnya aku ini sering –sengaja– terlambat shalat jamaah subuh dikarenakan si fulan yang senang memperpanjang shalatnya bersama kami.”

Abu Mas’ud Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu yang meriwayatkan hadits ini mengatakan, bahwa dia tidak pernah melihat Nabi sangat marah seperti hari itu. Nabi bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya di antara kalian ada yang senang membuat orang lari dari agama. Oleh karena itu, siapa pun di antara kalian yang menjadi imam shalat, maka hendaknya ia memperingan shalatnya. Sebab di belakangnya ada orang tua, anak kecil, dan orang yang mempunyai keperluan!

baca lebih lengkap disini

0 comments:

Post a Comment

 
© Copyright 2010-2011 catatan-ku All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.